Menjelang peringatan Hari Tani Nasional 24 September 2025, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menggelar konsolidasi nasional secara daring bersama seluruh DPD dan DPC se-Indonesia, pada Minggu, 21 September 2025.
Konsolidasi ini merupakan tindak lanjut dari Surat Instruksi DPP GMNI Nomor 005/Int/DPP.GMNI/IX/2025, yang menyerukan seluruh struktur organisasi untuk turun aksi memperjuangkan isu agraria dan demokrasi di tanah air.
Ketua Umum DPP GMNI, Sujahri Somar, dalam arahannya menegaskan bahwa momentum Hari Tani bukan sekadar peringatan historis, melainkan panggilan ideologis bagi seluruh kader untuk kembali ke akar perjuangan rakyat kecil.
“Perjuangan agraria bukan sekadar isu sektoral, tetapi bagian dari revolusi nasional untuk menegakkan kedaulatan rakyat atas tanah,” tegas Sujahri dalam konsolidasi tersebut.
Tahun ini, GMNI mengusung tema besar “Indonesia Darurat Agraria dan Demokrasi” dengan tagline “Menyambut Kedaulatan Rakyat atas Tanah.”
Melalui tema itu, GMNI menegaskan sikap politiknya terhadap kondisi ketimpangan penguasaan lahan dan lemahnya kebijakan agraria nasional yang dinilai belum berpihak kepada rakyat.
Dalam surat instruksinya, DPP GMNI meminta seluruh DPD dan DPC di Indonesia untuk:
1.Mempersiapkan mobilisasi massa secara tertib dan terorganisir,
2.Melakukan konsolidasi bersama elemen masyarakat pendukung,
3.Menyampaikan tuntutan secara jelas dan tegas sesuai tema aksi, serta
4.Melaporkan hasil pelaksanaan aksi kepada DPP setelah kegiatan selesai.
Sekretaris Jenderal DPP GMNI, Amir Mahfut, menambahkan bahwa konsolidasi dan aksi Hari Tani bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata keberpihakan GMNI terhadap perjuangan rakyat kecil.
“Hari Tani adalah momentum untuk mempertegas posisi politik agraria nasional. GMNI berdiri di barisan depan bersama petani dalam menuntut keadilan dan kedaulatan rakyat atas tanah,” ujarnya.
Melalui konsolidasi nasional ini, DPP GMNI menegaskan bahwa perjuangan agraria adalah napas dari perjuangan ideologis kaum Marhaenis.
GMNI menyerukan kepada seluruh kader di tanah air untuk menjaga semangat gotong royong dan tetap berpihak pada kaum marhaen yang hari ini masih berjuang di ladang-ladang kehidupan.
“Selama masih ada petani yang kehilangan tanahnya, selama rakyat belum berdaulat atas sumber penghidupan, maka perjuangan belum selesai,” tutup Sujahri menegaskan.
GMNI menegaskan, Hari Tani bukan sekadar simbol, melainkan panggung perjuangan politik rakyat untuk menuntut keadilan atas tanah dan sumber kehidupan.
Di bawah panji Marhaenisme, GMNI berkomitmen menjaga api perjuangan agar tidak padam — demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur di bawah panji Pancasila 1 Juni 1945.
